Hari ini studi banding UNES di TP

4 08 2009

TP,14/8. Sebuah kunjungan kehormatan mahasiswa jurusan Kurtekdik Universitas negeri Semarang datang untuk kedua kalinya ke Undiksha TP. Sebuah misi studi banding, mencari pengalaman dan sharing antar saudara kita yang sama-sama memiliki jurusan teknologi pendidikan. Untuk itu mari kita tingkatkan persaudaraan TP seluruh Indonesia.

TP UNES-TP UNDIKSHA

TP UNES-TP UNDIKSHA

fose unes

Fose unes

Iklan




Matinya kaderisasi Dosen TP di UNJ akankah terjadi di TP di TP Undiksha?

2 08 2009

Cukup menggelitik tulisan dengan judul  “Matinya Kaderisasi Dosen TP di UNJ” sedangkan tambahan ” akankah terjadi di TP Undiksha? admin sengaja tambahkan, yang seharusnya tidak kebaran jenggot kalau bersikap apatis dengan kondisi ini. Untuk itu ikuti selengkapnya !

Bergulung ombak di laut biru …
Mendengar pengumuman CPNS dosen …
Bergetar kilat diangkasa,
Sedangkan tiada huja
n.

Begitulah kira-kira sepenggal bait lagu yang dulu pernah hit dibawah dendangan merdu suara Helen Sparingga. Kenyataan pahit itu terjadi di Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Bahkan, ini adalah untuk yang ketiga kalinya setelah dua skandal sebelumnya sejak tahun 2002. Seorang peserta CPNS yang jelas-jelas mendapatkan skor urutan ke-empat dari empat calon lolos menjadi calon pegawai negeri sipil yang akan memiliki jabatan fungsional sebagai seorang dosen paa program studi tersebut. Tiga orang lainnya, yang satu sudah mengabdi selama kurang leih 8 tahun sejak tahun 2000, satu lagi adalah lulusan S2 cumlaude, dan satu lagi adalah fresh graduate yang juga memiliki nilai yudisium cumlaude kandas, tersingkir oleh seorang fresh graduate yang biasa-biasa saja, tidak memiliki prestasi akademik atau lainnya yang melebihi tiga calon yang lainnya tersebut.

Ada apa dibalik ini? Kalo memang seperti ini adanya mengapa harus ada ritual tes tertulis dan uji mengajar dihadapan dewan juri agung? Dewan juri yang agung tahu persis urutan skor nilai baik dari hasil tes tulis dan wawancara. Pihak kepegawaian tetap memunculkan nama urutan keempat tersebut sebagai pemenang. Persitiwa ini sama persis dengan kejadian tahun 2003, diantara sekitar enam calon kuat, yang justeru dipilih rektor saat itu adalah fresh graduate yang mendapat skor nilai tes tulis dan uji praktek pada urutan keempat. Rupanya posisi urutan empat ini adalah angka hoki di UNJ.
Atas peristiwa ini, melalui tulisan ini saya mengkhawatirkan bahwa ada tanda-tanda matinya kaderisasi ke-TP-an di UNJ. Bagaimana disiplin ilmu TePe sebagai padepokan muda mau eksis di dunia persilatan disiplin ilmu pendidikan lain di Indonesia, kalo mekanisme pemilihan dosen saja sudah tidak “fair” dan terbuka. Orang-orang terbaik malah justru disingkirkan. Ini adalah alamat bahwa ilmu ke-TP-an di Indonesia akan mati. Tidak ada lagi kader. Khusus di UNJ, tokoh teknologi pendidikan yang ada saat ini semuanya sudah dalam masa telah pensiun. Sebut sajalah Prof Yusufhadi Miarso, Dr. Farida Mukti, dan lain-lain. Dosen muda yang diperoleh sejak tahun 2002, dari sisi proses penrimaannya saja sudah bermasalah. Jangan tanya kualitas, komitmen dan dedikasi. Sebagai alumni, saya merasa prihatin akan hal ini. Mudah-mudahan, untuk yang satunya lagi dari level S2 cuku berualitas dan berdedikasi tinggi terhadap ilmunya.

Mencermati hal ini, sebaiknya mekanisme penerimaan dosen harus dirubah. Tidak lagi melalui pengumuman, tes tulis, tes lain yang hanya formalitas belaka. Tapi melalui pola kaderisasi oleh seorang professor dan dipilih oleh suatu dewan khusus dari pihak jurusan atau program itu sendiri. Pihak kepegawaian tetap menjalankan tugas dan fungsinya sebagai fasilitator rekrutmen. Caranya bagaimana? dewan khusus bertugas memilih mahasiswa (S1, S2 atau S3) berbakat menjadi dosen (tentu dengan berbagai kriteria tertentu). Sambil menunggu adanya formasi baru, calon-calon ini dididik dan digembleng melalui pengalaman nyata praktek mengajar sebagai seorang dosen sebagai asisten yang dibiming oleh seorang profesor atau dosen senior. Ketika ada formasi baru pihak dewan kusus ini tinggal mengusulkan kadet-kadet ini untuk diseleksi. Dengan cara ini, kualitas dosen baru akan lebih terjamin.

Dengan cara seperti saat ini, kualitas (baik dari sisi kepribadian, keterampilan mengajar, penguasaan materi, dan lain-lain) tidak bisa diukur. Apalagi kalo tes hanya dijadikan sebagai formalitas belaka.

Tulisan ini saya tujukan bagi para alumni atau mahasiswa teknologi pendidikan dimana saja. Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi hal-hal seperti ini? mohon masukan, usul, ide dan saran lain dari Anda semuanya demi eksistensi teknologi pendidikan kedepan. Atas partisipasinya, dihaturkan terima kasih.

Sumber http://www.tpers.net