Kavling Guru TIK di sekolah milik siapa ?

24 01 2009

“KAVLING” GURU TIK DAN PENGAJARANNYA MILIK SIAPA?

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya revolusi dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Eric Ashby (1972) menyatakan bahwa dunia pendidikan telah memasuki revolusinya yang kelima. Revolusi pertama terjadi ketika orang menyerahkan pendidikan anaknya kepada seorang guru. Revolusi kedua terjadi ketika digunakannya tulisan untuk keperluan pembelajaran. Revolusi ketiga terjadi seiring dengan ditemukannya mesin cetak sehingga materi pembelajaran dapat disajikan melalui media cetak. Revolusi keempat terjadi ketika digunakannya perangkat elektronik seperti radio dan televisi untuk pemerataan dan perluasan pendidikan. Revolusi kelima, seperti saat ini, dengan dimanfaatkannya teknologi informasi dan komunikasi tercanggih, khususnya komputer dan internet untuk pendidikan.

Masuknya mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi pada kurikulum berbasis kompetensi sejak tahun 2004 yang dikenal juga dengan KBK 2004 dalam usia yang masih belum mendapat pemahaman detail, kini ini telah diganti dengan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dimana Setiap satuan pendidikan melakukan perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, dan pengawasan proses pembelajaran untuk terlaksananya proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Tulisan ini tidak bermaksud untuk balik ke belakang. Namun demikian, tentunya pemerintah tidak serta merta dan terburu-buru memasukkan teknologi informasi dan komunikasi dalam kurikulum sekolah di tahun 2004 untuk menjawab kebutuhan dan perkembangan dan kemajuan jaman, seperti apa yang digambarkan oleh Eric Ashby.

Namun untuk mewujudkan tatanan masyarakat informasi dengan segala perkembangan yang terjadi baik sebagai akibat perjanjian ASEAN Free Trade Area (AFTA) yang telah berjalan selama 4 tahun merupakan bagian dari era globalisasi yang telah memberikan pengaruh kepada persaingan yang makin ketat dan tajam. Sehingga untuk menghadapi tangangan itu diperlukan peningkatan daya saing dan keunggulan dalam berbagai sektor usaha, baik industri dan juga jasa. Oleh karena itu upaya peningkatan kemampuan dan kompetensi sumber daya manusia menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi.

Mencermati usaha yang telah dilakukan pemerintah khususnya pada bidang Telematika ( Teknologi telekomunikasi, Media dan Informatika ) tampaknya sudah dibuat grant design sebagai sebuah peta dengan pardigma baru yang disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan yang akan datang. Salah satu yang mendapat perhatian sangat serius adalah peningkatan kemampuan dan komptensi SDM TI yang sesuai dengan tuntutan kebutuhan dunia kerja, memerlukan hubungan yang timbal balik antaran penyedia SDM (lembaga Pendidikan dan Pelatihan) dengan dunia Industri yang membutuhkan.Suatu keterbukaan untuk bekerjasama dan bersinergi pisitif antar elemen untuk merumuskan sebuah standar kompetensi kualifikasi SDM bidang TIK yang dilakukan oleh pnyedia idustri,dengan lembaga pendidikan sebagai penyedia SDM agar mengembangkan dan menyelenggarakan program pendidikan untuk memenuhi standar kebutuhan tersebut. Memang tersedianya SDM yang berkompeten tidak akan ada artinya jika tidak tidak diimbangi dengan pembangunan dan penyedian insfrastruktur dan industri TIK.

Dunia pendidikan seperti disebutkan diatas sebagai penyedia SDM sangat bertanggung jawab untuk melahirkan tenaga SDM TIK yang kompeten. Isu penting TIK di lembaga pendidikan adalah masalah Kurikulum TIK dan Ketersediaan tenaga Guru TIK untuk pengajarannya di sekolah-sekolah. Untuk masalah yang pertama pada kurikulum TIK dengan mencermati beberapa dokumen yang ada pada sektor TIK memang pemetaan baik segementasi dan ruang lingkup TIK sudah mulai digarap dengan melibatkan seluruh komponen yang ada. Pada level sekolah dasar dan menengah pemerintah dalam hal ini Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Pendidikan Menegah Kejuruan melakukan penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional (SKKNI) sektor TIK yang akan menjadi dasar pengembangan tenaga SDM bidang TIK di Indonesia. Pada sekolah umum baik SD dan SMP penyusunan Standar juga sudah dilakukan dengan berpijak pada Standar Nasional Pendidikan dimana pengembangan dan pendalaman kuriklum dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Segementasi Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) untuk bidang telematikapun sudah jelas dengan dipetakan segmen telematika menjadi 4 sub sektor bidang telematika, yaitu : 1) SKKNI Sub Sektor Operator; 2) SKKNI Sub Sektor Programer; 3) SKKNI Sub Sektor Computer technical Support; 4) SKKNI sub Sektor Jaringan Komputer dan Sistem Adminsitrasi dan 5) SKKNI sub sektor Multimedia. Dimana setiap sub sektor ini memiliki sertifikasi kompetensi yang dipetakan berdasarkan Cluster. Cluster itu sendiri merupakan hasil dari penggabungan unit-unit komptensi yang ada dalam setiap sub sektor bidang telematika dan didasarkan pada standar RMCS ( Regional Model Competency Standard). Dibandingkan dengan standar yang lama, model RMCS ini memberikan fleksibilitas tinggi dimana unit-unit kompetensi tersebut dapat dipaketkan menjadi suatu kluster untuk suatu jenjang pekerjaan yang sepesifik. Dengan demikian, perubahan pekerjaan dalam dunia kerja dapat segera direspon.

Atas dasar SKKNI inilah sekolah mengembangkan kurikulum TIK pada setiap Tingkat satuan Pendidikan yang kita kenal dengan Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan TIK. Cakupan ruang lingkup TIK untuk sekolah Umum SMP/SMA tenunya sangat berbeda dengan Sekolah kejuruan. SKKNI yang sekarang telah dirubah namanya menjadi Standar Komptensi Nasional (SKN) juga menjadi acuan penyusunan kurikulum dan pengembangan silabus pada sekolah kejuruan disamping Standar isi (SI), Permendiknas No.22/2006 tentang standar isi, Permendiknas 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan, Juknis dan Juklak KTSP dari BSNP dan bimbingan teknis LTSP Direktorat pembinaan SMK yang telah ditetapkan secara nasional. Ketrampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI), program keahlian Programer, Rekayasa Perangkat Lunak dan Multimedia merupakan Program keahlian yang dikembangkan pada sekolah kejuruan sekarang ini.

Kurikulum, setidaknya sudah dipetakan dengan jelas, dengan pemetaan ini diharapkan kesimpang siuran batasan materi yang diajarkan baik pada sekolah umum setingkat SMP/SMA/SMK tidak sampai menimbulkan kesalahpaham yang kronis. Namun bukan berarti sudah final, saat ini saja masih ada perdebatan terutama pembatasan yang materi yang boleh disampaikan pada jenjang sekolah menengah kejuruan dengan yang diajarkan pada peguruan tinggi.

Terlepas apakah kurikulum tingkat satuan pendidikan lebih baik dalam desain atau sangat menjanjikan untuk memecahkan masalah mutu pendidikan di negeri ini, akan menjadi sangat menarik untuk terus dikaji. Walaupun konteksnya sekarang KTSP, keberadaan Mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi saat ini tidak bisa diartikan sebagai suatu hal yang baru. Bukan juga jiwa kurikulum itu dapat dengan mudah kita tanggalkan dalam kontek kajian Mata pelajaran teknologi Informasi di sekolah-sekolah. Oleh karena itu dalam tulisan ini Mata Pelajaran Teknologi informasi di era KTSP merupakan rangkaian substansi dari KBK 2004 yang dalam mata rantai menjadi dasar untuk pengembangannya.

Kurikulum 2004 yang sudah tidak dipakai lagi namun rohnya tetap terbawa dalam KTSP terutama karena fokus pada pencapaian Kompetensi (keterpaduan aspek kognisi, afeksi dan psikomotor) dalam upaya proses pembelajaran menunut juga kesiapan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran yang tentunya disesuaikan dengan tuntutan karaktrisitk kurukulum yang berlaku saat ini. Dengan kata lain perubahan suatu kurikulum menuntut perubahan “prilaku mengajar guru” yang sesuai dengan tuntutan dan karakteristik dari kurikulum itu sehingga penerapan kuriklulum baru memiliki signifikasi bagi kemajuan pendidikan.

Banyaknya penilaian yang dilakukan oleh para pakar pendidikan (meskipun belum dilakukan penelitian secara cermat) bahwa, penerapan suatu kuriklum baru di Indonesia tidak banyak merubah “perilaku mengajar” para guru dilapangan. Beberapa kali perubahan kurikulum terjadi, nampaknya tidak menunjukkan perubahan yang berarti dalam kesiapan mengajar, strategi pembelajaran dan evaluasi yang digunakan oleh guru. Terlepas dari sarana, prasarana, media, pusat dan sumber belajar sebagai komponen utama dalam proses belajar, sangat menarik untuk dicermati akan kondisi dilapangan terutama tentang pelaksanaan pengajaran mata pelajaran Teknologi informasi dan Komunikasi itu sendiri.

Pada masalah kedua seperti disebutkan diawal diluar konteks insfrastruktur adalah penyediaan tenaga SDM untuk memberikan pengajaran TIK di sekolah-sekolah tersebut. Siapa yang berhak mengajar TIK? Siapa saja yang boleh menyandang sebutan Guru Mata pelajaran TIK? Kalau menyebut guru TIK, guru TIK yang mana? Apakah Guru TIK KKPI?, Guru TIK Programer? Guru TIK Rekayasa Perangkat Lunak?, guru TIK Multimedia? Seperti yang menjadi pembahasan alot oleh Musyawarah Kerja Guru Mata pelajaran TIK DKI Jakarta.

Ingat akan pertanyaan yang dilontarakan oleh seorang guru dari Bangli di bulan November tahun 2007 yang menanyakan kejelasan siapa yang sebenarnya cocok untuk mengajar TIK di sekolah-sekolah. Barangkali tidak berlebihan ketika pertanyaan yang sama terlontar dari salah seorang guru SMA dari Singaraja baru-baru ini ketika ada perhelatan di Kampus Undiksha. Kalau pertanyaannya siapa yang mengajar Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah tentunya tulisan ini tidak jadi kami lanjutkan. Sudah jelas! Siapa yang berhak.

Apabila menyadari fakta dilapangan menyangkut pengajaran TIK disekolah untuk saat ini, demi pelaksanaan KTSP TIK di sekolah, seorang guru bahasa Indonesia yang semasa pendidikannya dimampus banyak bergelut dengan Komputer telah dipercaya mengampu mata pelajaran TIK. Atau seorang guru Biologi yang sudah familiar menggunakan komputer diberikan kepercayaan untuk mengajar TIK di sekolah dimana mereka bertugas, apakah salah? Yang jelas ini fakta dilapangan jadi sah-sah saja. Hal ini dapat dimaklumi ketika persoalan aturan yang mana dipakai belum jelas, sarana dan prasarana untuk pembelajaran TIK disekolah juga masih terbatas. Suatu model yang banyak digunakan sekolah dalam usaha pembelajaran TIK dengan menyelenggarakan kerjasama dengan pihak lain dalam pengadaan komputer adalah dengan pola kerjasama. Tetapi ada juga yang sekolah mampu untuk membangun lab komputer sendiri dengan atau tanpa dukungan komite sekolah, lalu bagaimana dengan sekolah yang belum mampu menyediakan fasilitas yang layak pakai? Bagi sekolah yang mampu dengan dukungan pihak lain seperti alumni, dengan manajemen berbasis sekolah sangat mungkin dan memberikan peluang baru dalam memenuhi tuntuntan KTSP dan gensi sekolah menarik tenaga yang berlabel sarjana komputer untuk mengajar TIK. Sekali lagi sah-sah saja! Hal ini setidaknya karena; 1) sekolah mampu untuk membiayai; 2) Mengangkat guru baru tidaklah gampang; 3) Tidak ada rotan akarpun jadi, artinya seorang guru biologi bisa saja mengajar TIK asal mereka mampu, kata mampu tentunya sifatnya kualitatif sepanjang belum ada dasar; 4) Belum ada aturan secara tegas tentang siapa yang berhak mengajar TIK. Sarjana Komputerkah? Sarjana Kependidikan yang memiliki konsentrasi TIK atau Pihak-pihak yang telah bekerjasama dengan sekolah dimintakan bantuan untuk sekaligus menyediakan tenaga untuk mengajar TIK? Atau seseorang yang memiliki pengakuan dengan bukti sertifikat kompetensi TIK?

Kembali pada pertanyaan dua guru SMA diatas, tulisan inipun tidak mampu memberikan jawaban yang pasti. Alasan yang pertama karena penulis bukan pemegang wewenang memiliki kapasitas untuk itu, kedua penulis bukan regulator. Lalu apa gunanya dipaksa juga untuk ditulis ?Yang pasti penulis adalah rakyat biasa yang dalam konteks ini bisa urun pendapat, apalagi saran karena memang rakyat biasa biasanya tidak ahli.

Guru adalah pekerjaan yang mulia, pahlawan tanpa tanda jasa, patut di gugu dan ditiru. Apakah perubahan pengelolaan sistem pendidikan untuk saat ini ungkapan diatas masih relevan? Dalam banyak berita di media masa guru adalah sebuah profesi. Sebuah sebutan yang sangat bergensi mungkin bisa disamakan dengan gengsinya seorang dokter, pengacara dan arsitek. Sebuah profesi belum tentu profesional, namun seorang yang profesional sudah pasti mereka memiliki profesi. Begitu juga dengan profesi sebagai seorang guru (pendidik). Mereka mempunyai dasar hukum yang jelas, kode etik yang pasti, berada dibawah naungan organisasi profesi. Lalu bagaimana dengan guru TIK? Apakah cukup menyandang guru dengan sertifikat pendidik atau guru TIK ada sertifikasi khusus?

UU NO. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional disebutkan tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Sedangkan sebutan Pendidik adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Tentunya juga baik tenaga pendidik dan kependidikan pada pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang ada di negeri ini. Begitupun dalam bab XI, Pasal 39 ayat 2 disebutkan Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Masih dalam UU yang sama dalam pasal 42 ayat 1 disebutkan Pendidik harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Begitupual dalam pasal 43 ayat 2 tersurat Sertifikasi pendidik diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi. Lebih lanjut pada ayat (3) Ketentuan mengenai promosi, penghargaan, dan sertifikasi pendidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Dalam pasal 61 ayat 1, 2 dan 3 disebutkan dengan jelas tentang : (1) Sertifikat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi. (2) Ijazah diberikan kepada peserta didik sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian suatu jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi. (3) Sertifikat kompetensi diberikan oleh penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan kepada peserta didik dan warga masyarakat sebagai pengakuan terhadap kompetensi untuk melakukan pekerjaan tertentu setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 disebutkan bahwa Standar pendidik dan tenaga kependidikan adalah kriteria pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental, serta pendidikan dalam jabatan.Bagian Kesatu klausal Pendidik pasal 28 dalam PP ini disebutkan antara lain : (1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

(2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat pendidikan minimal yang harusdipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. (3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:

a. Kompetensi pedagogik; b. Kompetensi kepribadian; c. Kompetensi profesional; dan d. Kompetensi sosial. Dalam pasal disebutkan pula (4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/atau sertifikat keahlian sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan. Dan

(5) Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Pada pasal 29 lebih terinci lagi tentang apa yang harus dimiliki oleh pendidik seperti contoh untuk SMP dan SMA pada ayat (3) tersurat Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1)

b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan c. sertifikat profesi guru untuk SMP/MTs. Sedang pada ayat 4 disebutkan Pendidik pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: a. kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) b. latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan c. sertifikat profesi guru untuk SMA/MA. Pasal 30 ayat (4) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran yang penugasannya ditetapkan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan keperluan. Karena Guru dalam pengertian umum dihasilkan oleh suatu LPTK maka terhadap kompetensi calon guru dalam pasal 89 ayat 5 Sertifikat kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterbitkan oleh satuan pendidikan yang terakreditasi atau oleh lembaga sertifikasi mandiri yang dibentuk oleh organisasi profesi yang diakui Pemerintah sebagai tanda bahwa peserta didik yang bersangkutan telah lulus uji kompetensi.

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU secara lebih rinci disebutkan sebagai berikut : A. KUALIFIKASI AKADEMIK GURU terdiri atas : 1. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/ Taman Kanak-kanak/Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru sekolah menengah pertama/madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs), guru sekolah menengah atas/madrasah aliyah (SMA/MA), guru sekolah dasar luar biasa/sekolah menengah luar biasa/sekolah menengah atas luar biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), dan guru sekolah menengah kejuruan/madrasah aliyah kejuruan (SMK/MAK*), sebagai berikut; a. Kualifikasi Akademik Guru PAUD/TK/RA Guru pada PAUD/TK/RA harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan anak usia dini atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. b. Kualifikasi Akademik Guru SD/MI Guru pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) atau psikologi yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi. c. Kualifikasi Akademik Guru SMP/MTs. Guru pada SMP/MTs, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. d. Kualifikasi Akademik Guru SMA/MA Guru pada SMA/MA, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. e. Kualifikasi Akademik Guru SDLB/SMPLB/SMALB Guru pada SDLB/SMPLB/SMALB, atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program pendidikan khusus atau sarjana yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. f. Kualifikasi Akademik Guru SMK/MAK* Guru pada SMK/MAK* atau bentuk lain yang sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari program studi yang terakreditasi. 2. Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi wewenang untuk melaksanakannya.

B. STANDAR KOMPETENSI GURU. Standar kompetensi guru ini dikembangkan secara utuh dari empat kompetensi utama, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru. Standar kompetensi guru mencakup kompetensi inti guru yang dikembangkan menjadi kompetensi guru PAUD/TK/RA, guru kelas SD/MI, dan guru mata pelajaran pada SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK. Secara khusus standar kompetensi seorang guru jika mengampu mata pelajaran TIK harus mempunyai kompetensi inti guru mata pelajaran TIK pada setiap tingkatan baik SMP/MTs, SMA/MA, dan SMK/MAK adalah : 1) Mengoperasikan komputer personal dan periferalnya; 2)Merakit, menginstalasi, mensetup, memelihara dan melacak serta memecahkan masalah (troubleshooting) pada komputer personal; 3)Melakukan pemrograman komputer dengan salah satu bahasa pemrograman berorientasi objek; 4)Mengolah kata ( word processing ) dengan komputer personal; 4) Mengolah lembar kerja (spreadsheet) dan grafik dengan komputer personal; 5) Mengelola pangkalan data (data base) dengan komputer personal atau komputer server; 6) Membuat presentasi interaktif yang memenuhi kaidah komunikasi visual dan interpersonal; 7) membuat media grafis dengan menggunakan perangkat lunak publikasi; 8) Membuat dan memelihara jaringan komputer (kabel dan nirkabel); 9)Membuat dan memelihara situs laman (web); 8) Menggunakan sarana telekomunikasi (telephone, mobilephone, faximile ); 9) Membuat dan menggunakan media komunikasi, termasuk pemrosesan gambar, audio dan video.

10)Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dalam disiplin atau materi pembelajaran lain dan sebagai media komunikasi; 11)Mendesain dan mengelola lingkungan pembelajaran/sumber daya dengan memperhatikan standar kesehatan dan keselamatan; 12)Mengoperasikan perangkat keras dan perangkat lunak pendukung pembelajaran; 13)Memahami EULA (End User Licence Agreement) dan keterbatasan serta keluasan penggunaan perangkat lunak secara legal.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permerndiknas) No 08 tahun 2007 tentang PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN sebagai sebuah unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional di bidang pengembangan dan pemberdayaan pendidik dan tenaga kependidikan tidak ditemukan pasal pengembangan dan pemberdayaan pendidikan dan tenaga pendidikan secara khusus untuk guru TIK.

Peraturan Meteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) No. 38 tahun 2008 PENGELOLAAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL tidak secara langsung ikut campur mengutak atik tentang kompetensi guru. Namun dalam pasal 22 ayat 3 tersurat Pendanaan pengembangan, pelatihan, dan pembinaan sumber daya manusia serta pemberian biaya pengelolaan pengelola TIK pada zona kantor, zona perguruan tinggi, zona sekolah dan zona perorangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikoordinasikan oleh Pengelola TIK Departemen. Dalam realitasnya melalui Pustekkom di tahun 2007 telah melatih lebih kurang 10.000 guru dan kepala sekolah dalam pemanfaatan TIK dalam pembelajaran.

BSNP VS BNSP. Sepintas kelihatannya sama, hal ini karena deretan huruf nya adalah sama. Kesamaaan dua lembaga ini juga karena sama-sama sebuah badan independent yang dibentuk permintah yang mempunyai kemiripan tugas dalam hal membuat suatu standar kompetensi. Cuma kavling dan keluarnyanya yang berbeda. BSNP kaplingnya sekitar :Standar pendidikan Nasional, standar ujian nasional,standar proses pembelajaran dan lain-lain tentang pendidikan. Sedangkan BNSP kaplingnya melaksanakan sertifikasi Kompetensi kerja yang memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi untuk dunia kerja nasional.

Mencermati kedua badan tersebut baik Badan Standar Nasional Pendidikan BSNP) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) sama mempunyai kajian dan output kompetensi. Kalau BNSP bersandar pada seperangkat aturan seperti :…….. yang dalam aturan-aturan tersebut.Sebut saja dalam UU Sisdiknas membahas kompetensi Tenaga pendidik dan kependidikan. Tenaga pendidikan dan kependidikan ini salah satunya yang krusial adalah kompetensi Profesional. Selain kompetensi pedagogik, kepribadian dan sosial. Jadi kata profesi yang profesional juga diklaim dalam kajian BSNP. Seperti kita ketahui Guru disebut juga sebagai suatu profesi yang diharapkan profesional.

Pada Badan Nasional Standar Profesi (BNSP) kelahiranya bersandar pada delapan undang-undang seperti yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah RI No. 23 tahun 2004. Lembaga ini juga mempunyai tugas melaksanakan Standar Kompetensi Kerja Nasional dengan memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi independent dalam segala sektor dan unit kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja nasional sehingga melahirkan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Guru seperti dikatakan diatas adalah sebuah profesi. Ketika mereka diangkat dan bekerja sebagai tanaga pendidik dan kependidikan haruslah mempunyai kompetensi yang dibuktikan dengan sertifikat kompetensi melalui kegiatan sertifikasi. Kegiatan sertifikasi untuk guru dan dosen sebagai tenaga pendidikan dilaksanakan oleh perguruan tinggi yang ditunjuk. Sedangkan sertifikasi untuk tenaga profesi Telekomunikasi, Media dan Informatika (telematika) atau sering dikaburkan dengan istilah Teknologi Informasi dan Komunikasi diselenggarakan oleh suatu Lembaga sertifikasi yang ditunjuk oleh BNSP untuk melakukan kegiatan sertifikasi bidang Telematika dan TIK secara nasional.

Kalau guru TIK untuk SMA dan SMK harus mempunyai sertifikat sebagai bukti kompetensi, lalu pertanyaanya adalah sertifikat yang mana harus dimiliki. Apakah sertifikat pendidik guru TIK? Yang dalam hal ini belum ada perangkat aturan untuk sertifikasi guru TIK. Atau guru Biologi atau guru bahasa yang telah mendapatkan sertifikasi Standar Kerja Nasional (SKN) dari lembaga sertifikasi profesi yang ditunjuk BNSP bidang Telematika atau TIK?

Sambil menunggu finalisasi draft Tim-12 yang dibantu oleh Tim- 30 atau disebut juga Tim KG-nya BSNP akan Kejelasan Standar Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (SPTK) lebih-lebih untuk guru TIK, adalah kerjakan apa yang bisa dikerjakan dan lakukan dengan cara yang terbaik agar anak anak tidak menonton kendaran TIK lewat begitu saja.

Penulis Gde Putu Arya Oka

Pegiat Telematika


Aksi

Information

15 responses

3 03 2009
Tjatur Nugroho

guru TIK disandang oleh guru apa saja tidaklah masalah, asalkan dia mampu! jdi tinggal ngasih sertifikat legal saja bagi mereka (bisa di uji). Karena TIK bisa dipelajari oleh siapa saja. Pada kenyataannya di lapangan, mereka yang berasal dari jur Ti tidak serta merta mesti lebih kompeten dari orang yang bukan jur TI tetapi berbakat dan selalu belajar. banyak kenyataan terbukti: saya punya banyak teman dg latar belakang bukan TI tapi justru mampu menjadi programmer handal yang programnya banyak dipakai oleh berbagai perusahaan (ada bukti, kalau perlu harus dipaparkan). Saya sendiri juga bisa jadi contoh, bukan berlatar TI, namun menguasai banyak hal tentang TI, baik aplikasi maupun bahasa program, karena belajar, dan telah menggarap berbagai proyek perangkat lunak untuk beberapa perusahaan dan mengajar di beberapa SMA dan SMK TI RPL

5 03 2009
undikshatp

Trimakasih Pak sudah ikut nimbrung disisi, Pak Yusuf Hadi Miarso pernah berujar bahwa seseorang didasarkan pada kompetensinya, bukan pada sederetan titel, sedangkan pak tahu sendiri administrasi sangat ribet. Semoga saja dalam PPG ini kebimbangan dan tarik ukru untuk profesi guru TIK bisa ada kejelasan.

18 03 2009
Prudent

Salam Kenal
Hanya sedikit Perkenalan Di UPI BAndung
Ada jurusan Pendidikan ILmu komputer
berkompetensi untuk menjadi Guru TIK

6 06 2009
burhan

kurikulum ini hanya bagi sekolah yang mampu, bagaimana bagi sekolah yang ga punya ………………….??????

6 07 2009
Dedi

Saya mau menanyakan apakah anak Teknologi pendidikan dapat menjadi guru TIK? itu yang sedang saya tanyakan, karena saya akan melanjtkan. Untuk itu saya tolong pencerahanya! terimah kasih. Tolong dibalas di email saya atau ponsel 085730130718. Sekali lagi mohon penjelasannya! Oke

6 07 2009
undikshatp

Sesuai aturan Permen No. 8 tahun 2009, siapapun bisa menjadi guru TIK namun lewat PPG, untuk lebih jelasnya silakan baca permen No. 8 tahun 2009.

14 07 2009
rockabily

Sesuai dengan Permen No. 8 tahun 2009 yang boleh jadi guru TI adalah lulusan jurusan TI dan wajib mengikuti PPG. Dan PPG untuk wilayah bali akan dilaksanakan oleh undoiksha yaitu jurusan Pendidikan Teknik Informatika (yg dulunya PTIK). Jadi klo ad yg beranggapan apakah Jur TP bisa jadi guru TI saya kira itu mustahil. Ap yang diajarkan di TP itu hanya konsentrasi saja, sedangkan pada Jurusan Pendidikan TI semua kurikulum mengacu pada TI. Jadi klo seandainya jurusan TP menjadi guru TI penguasaaan ilmu TI masih dirsa dangkal. Walaupun ilmu yang didapat dipeljari secara otodidak. Dan mungkin untuk sertifikasi guru itu tidak linear. Dan di sekolah2 tidak ad pelajaran TP yang ada hanya pelajaran TIK (Dimana pengajarnya adalah guru TIK ).
salam Hangat

14 07 2009
undikshatp

Trim atas komentar rokabily. Benar dengan lahirnya Permen No. 8 tahun 2009 proses pengangkatan seseorang menjadi guru harus melalui PPG. Entah itu Guru Matematika, TIk dan sebagainya. Jurusan Teknologi Pendidikan juga berhak atas PPG dengan pertimbangan harus linear dan serumpun. Jadi kami sudah tahu apa artinya serumpun dan linear. dan dengan keputusan Menpan No PER/2/M.PAn/3/2009 mahasiswa TP setelah tamat akan mempunyai peluang bekerja pada :
1. Kalau ingin jadi guru Mahasiswa TP harus melalui PPG
2. Kalau ingin jadi PNS sudah ada jabatan yang menanti yaitu Jabatan Fungsional Teknologi Pembelajaran (JFTP)
3. Selama ini tamatan TP disamping berpeluang pada dua diatas banyak masuk pada lembaga diklat, Departemen PU, BNN, TVRI,Pustekkom ( mbahnya TP), tamatan TP diterima pada lembaga yang memiliki lembaga Diklat. Di Jogya ada lembaga Pengembangan Teknologi Pembelajaran yang sebagian besar dari tamatan Teknologi Pendidikan.

Artinya, tamatan dari TP sudah ada tempat yang pasti. Sedangkan kurikulum TP, kandungan TIK yang konsentrasi itu hanya untuk mahasiswa angkatan dua tahu yang lalu sedangkan kandungan MK TIK sebagai mata kuliah bidang studi yang harus memang dipelajari oleh mahasiswa TP , yang sekarang telah menjadi mata kuliah Bidang Studi, bukan Konsentrasi dalam fungsinya nantinya sebagai
1. Pengkaji dan analisis sistem model teknologi pembelajaran
2. penerapan sistem/model teknologi pembelajaran
3. Produksi media pembelajaran
4. perancangan sistem/model pembelajaran
5. produksi media pembelajaran,
6. penerapan sistem/model dan pemanfaatan media pembelajaran
7. pengendalian sistem/model pembelajaran
8. evaluasi sistem/model pembelajaran sesuai amanah dari permen yang baru.

Oleh karena fungsi yang diembang sangat berat, tidak mungkin mahasiswa TP tidak mempelajari TIK, TIK dipelajari dalam mata kuliah karena semua fungsi diatas memerlukan pengetahuan sikap dan keterampilan yang berkinerja elektronik.

dalam beberapa kasus seperti Padang BKD dan Diknas justru mengangkat Tamatan TP sebagai guru TIK, Bahkan di sumatera selatan tepatnya di kabupaten Ogan Ilir penerimaan guru untuk formasi Guru TIK adalah lulusan Teknologi pendidikan (th 2008-2009)
lalu apa lagi yang musti di ragukan. Coba di kaji lagi Ranah Teknologi Pendidikan lebih dalam demikian kata Susanto dari Sumatera.

Jadi siapa yang berhak atas kavling guru TIK adalah Apa katanya Regulasi, Regulasi yang mana ? turunan regulasi yang mana dipakai? sudah mulai akan jelas. Dan bukan kata si Belog, si Bolang dan si ketut.

Sekali lagi. trimakasih sudah berkunjung ke TP Undiksha

28 07 2009
rockabily

hehehe…penjelasan yang panjang dan lebar…
kalo diamati dari paparan yg anda berikan, tidak hanya tp saja yg diajarkan TIK jurusan lainpun juga diajarkan TIK, misal matematika, kimia dll. Tetapi kalau disuruh mengajar TIK ???

Di SMK sudah ad mata pelajaran Sistem Operasi, Jaringan, Pemrograman, dll…
Apakah TP ada matakuliah spt itu…

trims salam hangat

10 05 2010
heLL

dalam satu universitas kok saling tembak????? jurusan mana yang duluan lahir?? maka hormati jurusan yang lebih tua,,,, s

28 07 2009
Susanto

Yah… jadi tertarik dengan diskusi yg terjadi, saya nimbrung karena nama saya disebut2. Yang pasti begini saudara2.. apapun latar belakang pendidikan kita, yg namanya menjadi guru adalah sebuah panggilan hati. Hanya mungkin mengapa itu menajdi seperti saling membatasi adalah karena status akan jadi PNS atau tidak. Nah untuk itu kalau menurut saya biarlah segala sesuatu berkembang berdasarkan proses alamiah, dan menjadi dasar untuk memajukan dan mengembangkan pendidikan anak bangsa..

Biarpun TP, atau bukan atau PTI, mari bersama2 untuk memajukan IT di Indonesia. karena kita adala Indonesia Unite.

bravo Pendidikan Indonesia

28 07 2009
undikshatp

Trimakasih bapak susanto. Saya setuju ! kesannya memang ada rebutan lahan. Ibaratnya kita penembak saling membidik justru target lari kebirit-birit. Namun apapun yang kita diskusikan, saya berprinsif ada hikmahnya. Saran lebih baik ketimbang kritik. Oleh karenya menurut hemat saya mari berpulang regulasi yang ada saja.

Untuk bapak Rockabily ( saya yakin ini nama bukan sebenarnya). TP semenjak tahun 2007 sudah mengadakan kontrasi yang mengandung muatan TIK dan mulai tahun 2008 sudah dirwegulerkan. Nah untuk pertanyaan bapak saat ini TP khususnya kandungan TIK mahasiswa mendapat mata kuliah :

wah baik, mumpung bapak rockabily masuk lagi .

Ok di SMK ada program keahlian
1. TKJ= Teknik komputer dan jaringan
2. MMAV= multimedia audio visual
3. RPL = Rekayasa perangkat lunak
4. Grafika
5. Desain komunikasi grafis terdiri dari Komputer Grafis, desain grafis dan ilustrasi dan photografi, tolong dibedakan dengan desain komunikasi visual

untuk STM di Bnyuning membuka : RPL, TKJ dan MMAV
untuk SMNk di Sukasada ada MMAV, TKJ sdan juga RPL juga

nah untuk mahasiswa Tp mendapat mata kuliah

1. Photografi mendukung desain komunikasi grafis
2. Grafika mendukung desian grafis
3. fotografi mendukung desain grafis- MMAV
4. pengelolaan citra untuk desain grafis-MMAV
5.. mutliemdia untuk MMAV
6. Video untuk MMAV
7. broadcating untuk MMAV
8,. data base
9. Jaringan
10. Website
11. Pemograman bebasis obyek
12. Elearning
14. Pengenalan komputer
15. TIK pembelajaran
16. SIM pendidikan
17. Aplikasi Komuter
18. Animasi
19. Sinematografi

Untuk mata kuliah diatas kamiturunakn dari SKN standar komptensi nasional yang satu bukunya ada 800 halaman. dan itu semua diterbitkan pustekkom.

Dan tentunya mata kuliuah ILmu Pendidikan.

Kami tidak membandingkan dengan jurusan yang lain, dalam kinerjanya mahasiswa TP mempelajari Telematika (telekomunikasi, media dan informatika ) dimana TI bagian dari Telematika. Sedangkan dari kienerja Telematika ini diharapkan mahasiswa TP mampu mengemban jabatan prekeyasa pembelajaran. Bukan montir. Kalau kurukulum yang baru akan berlaku TI memamng dipelajari untuk semua fakultas, bukan TP saja.

Kami tunggu lagi, komentarnya agar kita bisa memposisikan diri kita sebaik-baiknya.

29 07 2009
rockabily

wah diskusi ini semakin hangat….
yup…klo anda bilang di jurusan TP terdapat MK ini MK itu, begitu juga dengan di PTI..
kita juga mempelajari Sistem Pakar (Artificial Intelegency), data mining, dll Yang memang silabus ini diambil dari APTIKOM.

Berdasarkan dari diskusi diatas..saya sendiri dapat menyimpulkan bahwa jurusan TP= Kurikulum Kependidikan yang disisipi IT, sedangkan PTI = kurikulum IT yang disisipkan Kependidikan. Jadi kelihatan sekali yang lebih dominan yang mana..

Trims buat bpk Susanto saya harap seperti itu semua pihak diharapkan dapat memajukan pendidikan terutama IT. Tetapi jangan hal tersebut dijadikan pembenar. Jangan sampai Guru agama mengajar IT, hal tersebut malah menjadikan pendidikan di indonesia menjadi mundur..

TRIMS SALAM HANGAT..

3 09 2009
ida selamet

pak……….. boleh minta sofware gk ma bapk?????

19 03 2010
erwin

Pak Mohon Info Untuk Pendidikan Profesi Guru TIK di mana yach di jawatengah khususnya di solo ada nga?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: