Mendiknas bicara Teknologi Pendidikan

12 12 2009

Seminar Nasional TP

Jakarta, Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan Seminar Nasional Teknologi Pendidikan dengan tema…

“Peran Teknologi Pendidikan Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan  Nasional”

yang dilaksanakan mulai 18-20 November 2009 bertempat di gedung D lantai 3, Departemen Pendidikan Nasional, Senayan, Jakarta. Acara ini dibuka langsung oleh Menteri Pendidikan nasional (Mendiknas), Mohammad Nuh pada Rabu, (18/11).

Seminar nasional diselenggarakan atas kerjasama antara Ikatan Pengembang Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Universitas Terbuka (UT), Universitas Negeri Jakarta (UNJ), SEAMOLEC, Pustekkom, dan Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Seminar ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan, pandangan, gagasan, dan pengalaman tentang pendidikan nasional termasuk pemanfaatan metode, sumber, media dan sistem pembelajaran dari para pakar di bidangnya.

Dalam sambutannya, Mendiknas mengajak untuk terus menerus mengembangkan teknologi pendidikan untuk menjawab persoalan ketersediaan, keterjangkauan, dan kualitas pendidikan. “Dengan teknologi pendidikan maka persoalan ketersediaan bisa dikurangi sebagian, demikian juga (persoalan) keterjangkauan,” tambah Mendiknas.

Mendiknas juga menyebutkan bahwa teknologi pendidikan memiliki tiga peran penting. Pertama, kata Mendiknas, teknologi pendidikan berperan sebagai pendukung proses pendidikan. Kedua, teknologi pendidikan berperan sebagai penggerak.

Peran ketiga, kata Mendiknas, teknologi pendidikan dijadikan sebagai pemungkin. “Kita harapkan teknologi pendidikan bisa berperan sebagai pemungkin atau enabler. Segala macam yang tidak mungkin jadi mungkin,” katanya.

Dalam acara yang sama, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Fasli Jalal mengatakan, dengan teknologi pendidikan, peluang untuk mendapatkan akses yang lebih luas bagi semua anak bangsa dan pemangku pendidikan makin meningkat. “Jadi diperlukan kesabaran terus menerus untuk mensosialisasikan, mendampingi, dan memudahkan mereka di dalam mengakses teknologi ini termasuk kemampuan kita untuk mengembangkan konten,” katanya.

Fasli menyampaikan, dari sisi kebijakan, pemerintah berkomitmen penuh untuk memanfaatkan, meninternalisasikan , dan membudayakan pemakaian teknologi pendidikan di berbagai jenis dan jalur pendidikan yang sesuai. “Kita berharap, semua sekolah terhubung dengan internet serta anak-anak bisa belajar dengan menyenangkan,” katanya. (AND) -Sidiknas-

sumber : http://www.diknas.go.id/headline.php?id=1288





Menginstall Optimisme !

1 12 2009

Manarik sekali kalimat yang dilontarkan oleh  Pak Ciputra , dalam bukunya Ciputra Quantum Leap, dalam bukunya pak CI mengatakan :

1. Saya tidak pernah melamar kerja, dan

2. Selembar Ijazah tanpa kecakapan enterpreneurship: Siapkan diri Antre Pekerjaan

kalimat beliau tentunya bukan asal  tulis, ini adalah fakta. Mari kita renungkan makna dibalik tulisan beliau ini? Bagaimana menurut pembaca?

Simak diskusi online TPer di sini





the 2nd National Conference (Natcom) Entrepreneurship

21 11 2009

Natcom Bali

Denpasar 21/11/2009.

Selama tiga hari, 18 – 20 Nopember 2009, bertempat di Hotel Puri Saron, seminyak Kuta berlangsung konferensi Nasional Enterprenurship yang diselenggarakan oleh universitas Ciputra.

Mengapa iven itu diposting pada blog ini? jawabannya adalah karena jurusan Teknologi Pendidikan melalui dosen yang dikirim hadir untuk mengikuti konferensi ini.

Apa, siapa mengapa pentingnya acara ini dapat dibaca pada link ini.

Dihadiri oleh 18 propinsi mulai dari sumatera utara sampai papua turut hadir dalam kegiatan ini. Banyak manfaat yang diperoleh dalam kegiatan ini, diantaranya :

1. pencerahan akan pentingnya entreneurship dikembangkan untuk mengganti mindset mulai dari TK, SD, SMP, SMA bahkan perguruan tinggi.

2. berbagai strategi model dan teknik impelementasi entrepeneurship dari nara sumber dalam dan luar negeri

3. kegiatan ini juga disertai praktek yang menyenangkan selama berlangsungnya kegiatan

Kegiatan yang setiap harinya dirancang dengan teori dan praktek sangat membuka paradigma dan atmosfir baru akan peluang bagi entreprenur-entrepreneur muda indonesia, terlebih-lebih mahasiswa peguruan tinggi.

bahkan diktipun dalam bath TOT menyatakan bahwa: Menurut Dirjen Dikti, Program kewirausahaan mahasiswa yang dijadikan sebagai program prioritas nasional adalah dalam rangka “mencemplungkan” mahasiswa ke dalam pengalaman nyata berwirausaha. Mereka diajarkan bagaimana merencanakan menjalankan dan mengembangkan usaha. Mahasiswa sudah punya modal dan pengalaman sangat penting sebelum mereka meninggalkan universitas. Bagi usaha yang berkembang dan dikelola dengan baik dan layak didanai oleh Bank, maka dikti akan menfasilitasi dengan pihak bank. Direktur Utama Bank Mandiri, bapak Agus Martowardojo, yang hadir saat vicon ini, bahkan mengatakan ketika program kewirausahaan itu sedang berjalan dan usaha itu berkembang dengan baik, maka bisa disinergikan dengan skim-skim program yang ada di Bank Mandiri.

Menteri BUMN, bapak Sofyan Djalil mengatakan kata kunci bagi kesuksesan meretas kewirausahaan di Indonesia ini adalah dengan mengkader sumber daya manusia Indonesia yang memiliki passion, keuletan, kemauan yang kuat untuk mengembangkan kewirausahaan ini, sehingga terbentuk critical mass atau yang disebut Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D, sebagai anchor kewirausahaan . Mereka yang tidak hanya pandai mentransformasikan ilmu pengetahuaan tapi juga ”menghayati” bagaimana praktisnya. kewirausahan bagi bapak Menteri adalah ilmu praktis bagaimana mencemplungkan diri secara langsung seperti orang belajar bersepeda dan berenang.

Dikti akan membentuk anchor kewirausahaan di perguruan tinggi ini. Setelah 191 dosen di ‘TOT’kan, tahun ini bekerjasama dengan Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) sebanyak 1600 dosen perguruan tinggi Indonesia. Dari sekian dosen yang dilatih akan dipantau dan dievaluasi, yang sungguh-sungguh, passion, menunjukkan minat dan kemampuan untuk mengembangkan kewirausahaan, 20 orang diantaranya akan diberangkatkan ke Kauffman Foundation di Kansass City Amerika pada tahun 2010 nanti. Melalui program Global Faculty Program (GFP) yang sudah dirintis oleh UCEC, Selama enam bulan mereka akan mendapatkan pengalaman eksposure langsung bagaimana budaya kewirausahaan di Amerika.

Di Kauffman Foundation, yang terpilih akan “dibenamkan” dalam semesta pembelajaran enterpreneurship dengan para profesor dari MIT, Harvard University dan Standford University. Selama 8 minggu pertama, mereka akan menghabiskan waktu belajar dan melihat secara langsung bagaimana gelora kewirausahan di Kansas City, Boston, dan Sillicon Valley. Mereka akan terlibat dan belajar langsung dari para pelaku usaha kewirausahaan di tiga tempat ini. 12 minggu berikutnya peserta akan fokus pada pengembangan alat-alat dan metode pembelajaran, penciptaan studi kasus dan penyusunan silabus mata kuliah kewirausahaan. Mari berlomba mendorong berkembangnya produktifitas nasional.





Seminar Nasional TP Undiksha

27 10 2009

SEMINAR AKADEMIK

ENHANCEMENT TEKNOLOGI PENDIDIKAN MELALUI REPOSISI PERAN DAN REVITALISASI FUNGSI MENUJU PENGEMBANG TEKNOLOGI PEMBELAJARAN YANG PROFESIONAL

A. Latar Belakang
Eksistensi sebuah profesi pada umumnya terletak pada seberapa jauh profesi itu diterima dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Begitu pula profesi Teknologi Pembelajaran akhir-akhir ini eksistensi dirasakan menguat kendati masih dengan pemahaman yang masih bias. Kehadiran teknolog-teknolog pembelajaran yang dihasilkan melalui suatu proses pendidikan formal seperti misalnya Teknologi Pendidikan digagas oleh para tokoh-tokoh Teknologi Pendidikan melalui perjuangan puluhan tahun yakni sejak tahun 1972 (disampaikan oleh Bapak Yusuf Hadimiarso pada Kolokium Teknologi Pendidikan-Bandung: Desember, 2008), setahap demi setahap telah melalui perjuangan yang alot, melelahkan namun pasti dalam memperkuat eksistensi Teknologi Pendidikan.
Kalau kita rasakan eksistensi tenaga-tenaga Teknologi Pendidikan pada institusi baik pendidikan, diklat, dan pemerintahan tidaklah menggembirakan. Hal ini terlihat sangat minimnya perekrutan tenaga-tenaga Teknologi Pendidikan baik di lembaga pendidikan dan kependidikan. Kekurangan rekrutmen ini menyebabkan tenaga Teknologi Pendidikan kurang mendapat apresisasi atau tidak dikenal dengan baik dikalangan masyarakat. Eksistensi tenaga Teknologi Pendidikan pada lembaga-lembaga pendidikan ataupun diluar pendidikan yang telah terserap belum mampu menjadi salah satu pilar dalam mensosialisasikan kompetensi Teknologi Pendidikan. Sehingga wacana kompetensi Teknologi Pendidikan hanya terdengar pada perguruan tinggi yang memang telah memiliki jurusan atau prodi Teknologi Pendidikan. Bukan itu saja, dikalangan internalpun pemahaman akan peran dan fungsi Teknologi Pendidikan disikapi dengan beragam sikap. Ada optimis dan ada juga yang tidak optimis. Yang lebih parah lagi adalah ketika jati diri Teknologi Pendidikan tidak mengakar dalam setiap mahasiswa.
Padahal carut marutnya kualitas pendidikan di Indonesia tidak henti-hentinya dibahas, didiskusikan dan dipertanyakan. Mengapa kualitas pendidikan di Indonesia masih begitu rendah? Apanya yang salah? Padahal regulasi sudah direformasi, tenaga guru/dosen sudah pula ditingkatkan dengan sertifikasi, alokasi dana sudah 20% dari APBN dan ada usul ditingkatkan lagi. Apakah arsitek-arsitek pendidikan kita, tidak berperan maksimal dalam mengatasi masalah-masalah pendidikan? Adalah menjadi kenginan kita bersama agar citra dan mutu pendidikan kita dimasyarakat dapat diterima tanpa kata cemooh. Lahirnya anak bangsa yang cerdas, kompetitif mampu menjadi raja di rumah sendiri, mampu bersaing ditingkat kawasan regional maupun internasional.
Oleh karena itu, tidaklah terlambat ketika kita mulai menguatkan kembali jati diri pada setiap jenjang dan jurusan yang ada. Khususnya Teknologi Pendidikan dirasa perlu melakukan upaya dan strategi yang lebih mengangkat eksistensi Teknologi Pendidikan. Menandai Teknologi Pendidikan dari sekian jurusan dan prodi yang ada lewat strategi benchmarking. Sehingga lewat sebuah tanda “mark” ini, keberadaan Teknologi Pendidikan dilapangan pendidikan dapat diidentifikasi dengan jelas. Bukan saja identifikasi terhadap nama Teknologi Pendidikan, namun juga menandai apa yang menjadi kompetensi Teknologi Pendidikan. Setelah masyarakat berhasil mengindentifikasi maka perlu suatu upaya untuk meningkatkan kualitas melalui reposisi peran dan revitalisasi fungsi tenaga Teknologi Pendidikan. Dua upaya ini dilakukan dengan berbagai langkah-langkah strategis. Ketika langkah ini telah diupayakan maka diharapkan akhirnya enhacement Teknologi Pendidikan dapat dikenal dengan baik. Atau masyarakat bisa melihat Teknologi Pendidikan dengan pandangan terbaik mereka. Sehingga salah satu upaya yang dilakukan oleh jurusan Teknologi Pendidikan FIP Undiksha adalah mengadakan seminar nasional bertema “Enhancement Teknologi Pendidikan melalui Reposisi Peran dan Revitalisasi Fungsi Menuju Pengembang Teknologi Pembelajaran yang Profesional”

B. Tujuan dan Manfaat
1. Melalui seminar nasional ini akan tersosialisasi fungsi dan peran pokok pengembang Teknologi Pembelajaran sesuai peraturan yang ada ke khalayak yang lebih luas, yang selama ini tersosialiasi pada kalangan terbatas di dalam kampus;
2. Melalui seminar nasional ini diharapkan tersosialisasi penguatan posisi, revitalisasi fungsi, kegiatan dan domain Teknologi Pendidikan (Pembelajaran);
3. Melalui seminar nasional ini diharapkan terososialiasi sinergi kegiatan pengembangan Teknologi Pembelajaran dengan Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Sehingga dengan tersosialisasinya ketiga point penting di atas diharapkan peserta seminar akan dapat mengambil manfaat sebagai berikut.
1. Bagi khalayak umum (stakeholder) dapat mengetahui dengan jelas tugas, fungsi dan peran pokok Teknologi Pembelajaran, sehingga dengan pengetahuan ini diharapkan para stakeholder dapat mengambil kebijakan yang erat kaitannya dengan kebutuhan pengembang Teknologi Pembelajaran;
2. Bagi kalangan internal (Kampus dan Mahasiswa) kegiatan ini dapat menambah wawasan tentang perkembangan dan isu-isu penting tentang Teknologi Pembelajaran;
3. Bagi alumni Teknologi Pendidikan, kegiatan seminar ini diharapkan dapat memperkuat jati dirinya sehingga dengan pemahaman yang lebih luas akan dapat menentukan dan memilih kemungkinan inpassing pada institusi dimana mereka sekarang berada.

C. Sasaran
1. Para pengambil kebijakan, stakeholder baik pada bidang pendidikan dan kependidikan (Diknas, BKD, Lembaga Diklat, Sekolah SMA/SMK, SMP dan lainnya);
2. Para mahasiswa aktif Teknologi Pendidikan (khususnya Mahasiswa Teknologi Pendidikan – FIP Undiksha yang sekarang masih aktif kuliah);
3. Para alumni Teknologi Pendidikan – FIP Undiksha baik sudah bekerja atau yang belum mendapat kesempatan bekerja;
4. Dan pihak-pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung mempunyai kepentingan dengan pengembang Teknologi Pembelajaran.

D. Waktu Pelaksanaan kegiatan
Hari : Senin
Tanggal : 2 November 2009
Pukul : 08.30 s/d selesai
Tempat : Gedung Auditorium Pasca Sarjana Undiksha
Singaraja – Bali

E. Keynote Speaker
1. Bapak Kepala Bidang Teknologi Pembelajaran PUSTEKKOM Depdiknas
2. Bapak Kepala Bidang Teknologi Informasi PUSTEKKOM Depdiknas

F. Lain-Lain
1. Kegiatan seminar nasional ini juga dirangkai dengan kegiatan pameran karya mahasiswa Teknologi pendidikan dengan mengikutsertakan partisipan dari Ikatan Mahasiswa Teknologi Pendidikan seluruh Indonesia (IMTEPSI).





Hari ini studi banding UNES di TP

4 08 2009

TP,14/8. Sebuah kunjungan kehormatan mahasiswa jurusan Kurtekdik Universitas negeri Semarang datang untuk kedua kalinya ke Undiksha TP. Sebuah misi studi banding, mencari pengalaman dan sharing antar saudara kita yang sama-sama memiliki jurusan teknologi pendidikan. Untuk itu mari kita tingkatkan persaudaraan TP seluruh Indonesia.

TP UNES-TP UNDIKSHA

TP UNES-TP UNDIKSHA

fose unes

Fose unes





Matinya kaderisasi Dosen TP di UNJ akankah terjadi di TP di TP Undiksha?

2 08 2009

Cukup menggelitik tulisan dengan judul  ”Matinya Kaderisasi Dosen TP di UNJ” sedangkan tambahan ” akankah terjadi di TP Undiksha? admin sengaja tambahkan, yang seharusnya tidak kebaran jenggot kalau bersikap apatis dengan kondisi ini. Untuk itu ikuti selengkapnya !

Bergulung ombak di laut biru …
Mendengar pengumuman CPNS dosen …
Bergetar kilat diangkasa,
Sedangkan tiada huja
n.

Begitulah kira-kira sepenggal bait lagu yang dulu pernah hit dibawah dendangan merdu suara Helen Sparingga. Kenyataan pahit itu terjadi di Jurusan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Jakarta. Bahkan, ini adalah untuk yang ketiga kalinya setelah dua skandal sebelumnya sejak tahun 2002. Seorang peserta CPNS yang jelas-jelas mendapatkan skor urutan ke-empat dari empat calon lolos menjadi calon pegawai negeri sipil yang akan memiliki jabatan fungsional sebagai seorang dosen paa program studi tersebut. Tiga orang lainnya, yang satu sudah mengabdi selama kurang leih 8 tahun sejak tahun 2000, satu lagi adalah lulusan S2 cumlaude, dan satu lagi adalah fresh graduate yang juga memiliki nilai yudisium cumlaude kandas, tersingkir oleh seorang fresh graduate yang biasa-biasa saja, tidak memiliki prestasi akademik atau lainnya yang melebihi tiga calon yang lainnya tersebut.

Ada apa dibalik ini? Kalo memang seperti ini adanya mengapa harus ada ritual tes tertulis dan uji mengajar dihadapan dewan juri agung? Dewan juri yang agung tahu persis urutan skor nilai baik dari hasil tes tulis dan wawancara. Pihak kepegawaian tetap memunculkan nama urutan keempat tersebut sebagai pemenang. Persitiwa ini sama persis dengan kejadian tahun 2003, diantara sekitar enam calon kuat, yang justeru dipilih rektor saat itu adalah fresh graduate yang mendapat skor nilai tes tulis dan uji praktek pada urutan keempat. Rupanya posisi urutan empat ini adalah angka hoki di UNJ.
Atas peristiwa ini, melalui tulisan ini saya mengkhawatirkan bahwa ada tanda-tanda matinya kaderisasi ke-TP-an di UNJ. Bagaimana disiplin ilmu TePe sebagai padepokan muda mau eksis di dunia persilatan disiplin ilmu pendidikan lain di Indonesia, kalo mekanisme pemilihan dosen saja sudah tidak “fair” dan terbuka. Orang-orang terbaik malah justru disingkirkan. Ini adalah alamat bahwa ilmu ke-TP-an di Indonesia akan mati. Tidak ada lagi kader. Khusus di UNJ, tokoh teknologi pendidikan yang ada saat ini semuanya sudah dalam masa telah pensiun. Sebut sajalah Prof Yusufhadi Miarso, Dr. Farida Mukti, dan lain-lain. Dosen muda yang diperoleh sejak tahun 2002, dari sisi proses penrimaannya saja sudah bermasalah. Jangan tanya kualitas, komitmen dan dedikasi. Sebagai alumni, saya merasa prihatin akan hal ini. Mudah-mudahan, untuk yang satunya lagi dari level S2 cuku berualitas dan berdedikasi tinggi terhadap ilmunya.

Mencermati hal ini, sebaiknya mekanisme penerimaan dosen harus dirubah. Tidak lagi melalui pengumuman, tes tulis, tes lain yang hanya formalitas belaka. Tapi melalui pola kaderisasi oleh seorang professor dan dipilih oleh suatu dewan khusus dari pihak jurusan atau program itu sendiri. Pihak kepegawaian tetap menjalankan tugas dan fungsinya sebagai fasilitator rekrutmen. Caranya bagaimana? dewan khusus bertugas memilih mahasiswa (S1, S2 atau S3) berbakat menjadi dosen (tentu dengan berbagai kriteria tertentu). Sambil menunggu adanya formasi baru, calon-calon ini dididik dan digembleng melalui pengalaman nyata praktek mengajar sebagai seorang dosen sebagai asisten yang dibiming oleh seorang profesor atau dosen senior. Ketika ada formasi baru pihak dewan kusus ini tinggal mengusulkan kadet-kadet ini untuk diseleksi. Dengan cara ini, kualitas dosen baru akan lebih terjamin.

Dengan cara seperti saat ini, kualitas (baik dari sisi kepribadian, keterampilan mengajar, penguasaan materi, dan lain-lain) tidak bisa diukur. Apalagi kalo tes hanya dijadikan sebagai formalitas belaka.

Tulisan ini saya tujukan bagi para alumni atau mahasiswa teknologi pendidikan dimana saja. Bagaimanakah seharusnya kita menyikapi hal-hal seperti ini? mohon masukan, usul, ide dan saran lain dari Anda semuanya demi eksistensi teknologi pendidikan kedepan. Atas partisipasinya, dihaturkan terima kasih.

Sumber www.tpers.net





Opening : Pembelajaran Jarak Jauh TP

31 07 2009

Jurusan Teknolgi Pendidikan Undiksha Singaraja bersama jurusan TEP Malang akan melakukan sharing pembelajaran jarak jauh berbasis web.

Untuk mahasiswa TP Undiksha dalam mata kuliah semester ini yang ingin mengikuti atau sekedar praktek bagaimana pembelajaran  jarak jauh silakan klik alamat ini





Permenpan TP

29 07 2009

Permenpan TP dapat diunduh pada menu kanan blog ini pada tab REGULASI TP

admin





Arah Baru Pengembangan Profesi Teknologi Pendidikan

14 07 2009

Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (Kurtekdik) merupakan salah satu jurusan pendidikan di Indonesia, selama beberapa kali telah terjadi pergeseran orientasi di ranah akademik, tentu seiring dengan dinamika yang terjadi masyarakat pendidikan.

Belakangan ini para pelaku/akademisi jurusan Kurtekdik disibukkan dengan mencari orientasi kerja yang paling pas untuk lulusannya, seiring dengan itu maka harus juga ada penyesuaian-penyesuain kurikulum pendidikan Kurtekdik.

Saya ingin mengingatkan, kesalahan melakukan analisis lapangan kerja pasca kelulusan akan berdampak pada terlantarnya para lulusan. Selama ini, yang paling senter terdengar di jurusan Kurtekdik adalah pengembangan media pembelajaran, ranah ini yang selalu didengungkan dan dibanggakan. Kemudian, ada tarik ulur mengenai Guru TIK yang oleh sebagaian pihak diklaim sebagai ranah kerja lulusan Kurtekdik.

Disini saya tidak ingin menambah perdebatan, Cuma ingin menunjukan fakta tersembunyi di balik peluang lulusan Kurtekdik. Jamak sudah kita ketahui baik mahasiswa, dosen maupun alumni bahwa prosentasi kurikulum di Kurtekdik lebih besar mengarah ke pengembangan media, ini menurut saya yang harus dikritisi.

Saya memahami dan mengalami bagaimana perkuliahan saya dulu hampir sebagian besar didominasi mata kuliah pengembangan media semacam fotografi, pengembangan media grafis, media 3 dimensi, computer dan video. Setelah saya lulus, saya bekerja sebagai pengembang kurikulum di sebuah sekolah favorit dan alhamdulillah telah berhasil mengantarkannya sebagai Sekolah Standar Nasional dan Sekolah Bertaraf Internasional. Disini kemampuan kurikulum jelas sangat dibutuhkan, sebelumnya saya diamanahi sebagai wakil kepala bidang kurikulum di sebuah SMA/MA swasta, lagi-lagi kemampuan kurikulum yang dibutuhkan. Pada waktu itu saya melihat bahwa kasus saya adalah individual dan tetap beranggapan bahwa konsep yang pertama dan utama lulusan Kurtekdik adalah pengembang media/teknisi media.

Sekarang saya menjadi Analis Program di Pusdiklat Lembaga Pemerintah, Pusdiklat yang juga scr structural memiliki studio pengembangan media pembelajaran. Disini Lulusan Kurtekdik lebih banyak menangani pendesainan program dan pengembangan kurikulum diklat. Diskusi sederhana saya lakukan dengan rekan seprofesi, bahwa kompetensi utama sarjana Teknologi Pendidikan sebenarnya saat ini harus diarahkan ke pengembang program/kurikulum, sedangkan untuk pengembangan media, sarjana Teknologi Pendidikan cukup sebagai manager dan pendesain programnya. Kita tidak perlu langsung menangani pengembangan media, mengingat saat ini banyak sarjana atau diploma yang bergelut dibidang media baik itu video, computer, maupun foto.

Logikanya sederhana, secara kompetensi dan ketrampilan sarjana Teknologi Pendidikan tentu tidak semahir sarjana computer dalam bidang computer praktis, sedangkan untuk bidang video dan foto sudah ada diploma atau sarjana pertelevisian. Kita sebenarnya tidak harus terjun ke ranah praktis, cukup kita sebagai pendesain programnya dan menjadi manager mereka.

Lantas bagaimana dengan Pusat Sumber Belajar di Sekolah? Mengenai PSB, Sarjana Teknologi Pendidikan tetap bisa sebagai pengelolanya, Cuma agak sedikit bergeser dari paradigma tukang ke paradigma manager. Artinya apabila Sarjana Teknologi Pendidikan berkecimpung di PSB maka tidak tidak diutamakan kemampuan praktis media tapi juga tidak boleh diabaikan, yang mesti diutamakan adalah kemampuan pendesainan media pembelajaran yang ideal.

Apabila pendapat diatas diterima, maka konsekuensinya kurikulum Kurtekdik harus sedikit diotak-atik dengan pemberian prioritas SKS lebih besar pada Mata Kuliah terkait pendesainan program dan pengembangan kurikulum. Yakinkah kita bahwa dengan konsen ke pendesain program dan pengembang kurikulum akan banyak lapangan kerja tersedia untuk kita? Seperti saya kemukakan diatas, bahwa ranah kerja kita tetap bisa sebagai pengelola PSB, dan ditambah lagi di Diklat, serta pengembang kurikulum sekolah atau lembaga pendidikan lain.

Fakta menunjukan, beberapa sarjana Kurtekdik kurang begitu memahami fungsi sebagai pengembang kurikulum dan pendesain program kecuali hanya segelintir yang ditunjang kemauan mengembang keilmuan itu di luar perkuliahan.

Peluang menjadi pendesain program dan kurikulum pada lembaga diklat negeri dan swasta terbuka lebar, tapi tidak mengabaikan peluang menjadi pengembang media di PSB yang ada di Sekolah maupun luar sekolah. Jika kita mau mengembangkan media Video Pembelajaran, kita hanya sebagai sutradara, Penulis Scrip atau jamaknya sebagai pendesain programnya saja sedangkan prosen pengambilan gambar dan editing kita serahkan saja pada D3/S1 Pertelevisian atau TI.

Hasan | sumber : Ikatan Sarjana Teknologi Pendidikan





Fortofolio Mahasiswa TP MK Computer Graphic

29 06 2009

Contoh Fortofolio Mahasiswa TP yang mengambil Mata Kuliah Pengelolaan Citra

Karya Desainer : Dewa Gede Prabawa

Cover CD Interaktif

cover CD interaktif Designer Dewa Prabawa IVA